Banyak yang Sudah Sukses Usia 20an. Kenapa Juga Masih Ragu Berbisnis di Usia Muda?

Satu hal yang menurut saya masih cukup mengganggu dalam mengembangkan jumlah entrepreneur di Indonesia.

Ternyata masih banyak korban dari ‘sejuta alasan’ yang menghambat mereka untuk memulai bisnis atau usaha.

Entah itu karena belum siap secara mental, atau memang belum ada niat 100%.

Jadi… muncul deh tuh sejuta alasan yang sebenarnya cuma menutupi 1 alasan utama, belum niat 100%.

Apa Anda juga termasuk salah satu korban dari alasan tersebut?

 

Wait, tahan dulu sebelum kita ngomongin sejuta alasan untuk tidak memulai bisnis.

Coba kita renungkan sebentar…

Kenapa Yasa Singgih yang saat itu masih berusia 20 tahun, bisa menghasilkan omzet penjualan hingga puluhan, bahkan ratusan juta?

Bahkan di bulan Februari tahun 2016 kemarin, namanya pernah dicatut Forbes sebagai ‘30 Millennials Under 30 In Asia Who Are Changing E-commerce And Shopping’.


Sumber gambar: Bisnis Liputan 6

Atau mungkin Nicholas Kurniawan yang mampu menghasilkan omzet ratusan juta rupiah per bulan hanya dari ‘jualan ikan hias’. Kenapa bisa?

Oh ya, jangan lupa juga dengan sosok Rico Huang yang sudah bisa meraup omzet 70 juta hingga 100 juta per bulan saat usianya masih 18 tahun.

Dan saat ini mungkin Anda mengenalnya lewat Pasukan Alona yang sudah memiliki lebih dari 2500 pasukan.

 

Jadi apa yang membuat mereka bertiga dan beberapa pengusaha muda lainnya bisa dibilang… sudah mencapai kesuksesan di usia yang sangat muda?

Padahal kalau mau ditelusuri lebih dalam, mereka bertiga mulai berbisnis dari tingkat yang paling bawah dan apa adanya.

Bukan semata-mata dapat suntikan dana tinggi, atau mentoring dari pakar bisnis ternama.

Kalau kenyataannya kaya gitu, apa bedanya dengan Anda yang (mungkin) saat ini serba apa adanya?

Bedanya, mereka bisa bilang, “Mulai aja dulu”, lalu action saat itu juga tanpa banyak pertimbangan alias ‘sejuta alasan’.

 

“Gak ada modal nih bro, bikin bisnis kan butuh modal gede.”

Yap, yang namanya memulai usaha itu pasti butuh yang namanya modal. Tapi jangan pesimis dulu.

Bukan berarti Anda harus punya modal puluhan sampai ratusan juta dulu baru bisa mulai berwirausaha.

Bahkan banyak orang yang memulai berbisnis hanya dengan bermodalkan ‘dengkul’.

Inget, mereka bertiga pun memulai kesuksesannya dari tingkat yang paling bawah dengan modal seadanya.

Mulai bisnis dari yang paling kecil, lalu diakselerasi karena ketekunannya, bukan karena modalnya.

Jangan takut mulai berbisnis dari tingkat yang paling rendah. Akselerasi pertumbuhannya karena ketekunan, bukan karena modal atau keahlian.

 

Ada beberapa pilihan untuk mengumpulkan modal:

#1. Kerja. Dalam artian, Anda bekerja untuk orang lain sesuai dengan keahlian Anda.

#2. ‘Jual diri’. Bukan berarti sebagai pekerja ‘aneh-aneh’ loh ya. Tapi Anda jual kemampuan Anda tanpa bekerja dengan orang lain. Bisa sebagai fotografer amatir, virtual assistant, jasa desain, ngajar matematika dan sebagainya.

Di artikel ini saya sudah memberikan sekitar 35 ide ‘jual diri’ yang mungkin tepat buat diri Anda.

#3. Jadi perantara. Maksudnya sebagai jembatan antara penjual dan pembeli, bisa sebagai broker atau dropshipper (reseller online).

Kalau dari pribadi saya sendiri, jadi dropshipper-lah yang paling modal ‘dengkul’.

Cuma butuh modal smartphone, koneksi internet, laptop.

Gak harus jago teknik sales atau marketing, siapapun bisa nge-dropship, mulai dari anak sekolah sampai emak-emak.

Meskipun banyak yang bilang jadi dropshipper itu bukan bagian dalam bisnis, tapi gak ada salahnya mulai dari cara ini.

Toh, tujuan kita kan untuk membuka bisnis yang bermodal juga. Dropshipping cuma jadi jembatannya aja.

 

 

“Berbisnis itu kan resikonya tinggi, gimana kalau gua malah gagal?”

Bahkan ketika Anda diam dan gak melakukan apa-apa, sebenarnya saat itu juga Anda sedang berhadapan dengan resiko.

Ibaratnya ketika seorang cowo lagi mau nembak gebetannya.

Kalau dia berani nembak, kemungkinannya 50% diterima lalu jadian, atau 50% ditolak dan hanya sebatas teman (anggaplah begitu).

Sedangkan kalau dia takut ditolak dan memilih untuk diam.

Berarti kemungkinannya 100% gak akan jadian dengan gebetan tersebut.

Begitu juga dengan berbisnis.

Kalau selamanya Anda takut akan kegagalan dan lebih memilih untuk terus mempertimbangkan tanpa ada action sama sekali, lalu gimana caranya Anda bisa meraih kesuksesan?

 

“Tapi kan gua minim skill dan pengalaman?”

Ketika bayi belajar berjalan pertama kali, apa iya mereka sudah punya skill dan pengalaman?

Kalau kenyataannya kAnda minim skill dan pengalaman, itulah kenapa sebaiknya berbisnis juga dimulai dari hal yang paling kecil.

Gak usah hire banyak karyawan dulu, gak usah beli peralatan yang mahal dan lengkap dulu, gak usah sewa toko dulu kalau memungkinkan (via online atau manfaatkan tempat yang ada).

Seadanya aja dulu.

Nah, dari yang seadanya inilah proses Anda belajar dan menambah pengalaman.

 

“Oke oke, tapi gua gak tau mulai dari mana?”

Mulai dari mana aja boleh, gak ada aturan.

Mau buka warung makan? Sewa tokonya aja dulu.

Ketika Anda sudah bayar sewa toko, kan sayang kalau dibiarin gitu aja, mau gak mau Anda harus masuk ke langkah selanjutnya.

Mungkin cari karyawan misalnya.

Toko dan karyawan sudah ada, maka biaya terus berjalan, mau gak mau kita harus mulai cari bahan baku makanannya. Dan seterusnya.

Inilah yang dinamakan reaksi berantai.

Jangan kebanyakan mikir, action aja dulu.

Sekali Anda sudah action 1 hal, maka akan bermunculan quest-quest lainnya.

 

“Jualan bukan gua banget dah bro. Gengsi gua kalau nawarin produk ke orang lain.

Hahaha. Makan dah tuh gengsi yang banyak biar kenyang.

 

Tapi ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan sebelum memulai bisnis:

#1. Jadi pengusaha itu capek.

Disaat yang lain kerja 5 hari seminggu, 8 jam perhari, pengusaha ‘kerja’ 7 hari seminggu, 24 jam sehari. ‘Kerja’ bukan selalu secara fisik, tapi juga menyusun strategi atau memikirkan ide-ide cemerlang biar bisnisnya terus berkembang.

#2. Jangan harap untung di awal merintis.

Mungkin kalau Anda bekerja dengan orang lain, dalam waktu 1 bulan aja Anda sudah bisa menerima keuntungan dari gaji yang diterima. Berbeda dengan berbisnis sendiri, yang bahkan dalam waktu 1-3 tahun masih banyak kekurangan. Jadi? Ya korbankan banyak profit sebagai gantinya.

#3. Resikonya besar.

Bahkan perusahaan sebesar Yahoo aja masih bisa mengalami ‘kegagalan’ sampai akhirnya diakuisisi perusahaan lain. Jadi jangan khawatir, setiap bisnis pasti pernah atau akan mengalami kegagalan.

 

“Lalu gua harus gimana sekarang?”

Well, balik lagi ke diri Anda sendiri.

Sudah berapa besar niat Anda untuk memulai bisnis sendiri? Sudah cukup yakin?

Maka mulailah dari sekarang!

Dalam berbisnis itu yang terpenting bukan bagaimana cara memulainya. Tapi bagaimana cara kita tetap konsisten sambil mengejar pertumbuhannya.

 

Masih punya berbagai alasan untuk engga mulai berbisnis?

Silahkan taro di kolom komentar. Siapa tau saya bisa membantu.

 

 

5 Comments
  • Atifa
    Posted at 15:04h, 14 January Reply

    wkwkwkk nemu artikel beginian. ketampar gue.

    “Makan dah tuh gengsi yang banyak biar kenyang.” njir :v

  • Oey Halimwijaya
    Posted at 15:16h, 15 January Reply

    Kendala gua saat ini adalah kurangnya waktu. Gua takut kalo nanti setelah punya bisnis, studi gua jadi berantakan. Gimana bro ada saran?

  • Aji Baru Permana
    Posted at 16:11h, 15 January Reply

    Malu euy liat kenyataannya kaya gini sih. Selama ini kayaknya gak ada waktu selain kerja, kerja, kerja dan kerja. #lupadiri

  • Mutas
    Posted at 22:54h, 10 February Reply

    Satu2nya halangan gue buat memulai bisnis, gue gak cukup percaya diri kalau gue bisa jadi pebisnis yang sukses 🙁

  • Bobby Irawan
    Posted at 12:26h, 12 April Reply

    “Jangan takut mulai berbisnis dari tingkat yang paling rendah. Akselerasi pertumbuhannya karena ketekunan, bukan karena modal atau keahlian.”

    Tjakep!

Post A Comment