Seni Melakukan Penjualan Tanpa Berjualan: Meningkatkan Penjualan 2x Lebih Banyak & Bertahan Dalam Persaingan

(perhatian: tulisan ini akan sangat membosankan dan gak akan berdampak apa-apa, jika Anda tidak berniat penuh untuk meningkatkan penjualan bisnis Anda.)

Bisnis tanpa adanya penjualan itu seperti makhluk hidup tanpa bernapas.

Saat artikel ini pertama kali dibuat, banyak pelaku bisnis yang merasa tercekik karena dagangannya semakin sepi pelanggan.

Tingkat penjualan terus menurun dari hari ke hari.

Ujung-ujungnya?

Banyak yang berkeluh kesah kalau ekonomi lagi gak stabil, sampai pemerintah yang jadi korbannya.

Mungkin ada benarnya, mungkin ada salahnya juga.

Saya kurang paham karena saya bukan pengamat ekonomi.

Tapi yang saya tau, melakukan penjualan itu mudah…

Ya, melakukan penjualan atau yang sering disebut dengan closing itu gak sulit.

Cepat atau lambat Anda memasarkan suatu produk, 100% pasti ada saja orang yang akan membelinya.

Maka terjadilah penjualan, selesai.

Sedangkan tantangannya adalah…

…bagaimana caranya kita mampu meningkatkan penjualan tersebut.

Ini yang banyak dikeluhkan oleh para pelaku usaha khususnya kelas UKM.

Apakah Anda salah satunya?

Pada tulisan kali ini, saya akan mencoba memberikan panduan lengkap bagi Anda yang ingin meningkatkan penjualan bisnis Anda…

Bahkan membuat bisnis Anda mampu bertahan di tengah persaingan yang tinggi dan ekonomi yang gak stabil.

Sebelumnya, coba Anda perhatikan foto-foto berikut.

Ini adalah beberapa contoh dari hard selling yang sangat sering dilakukan oleh para pedagang online Indonesia.

Dari kacamata pedagang tersebut, mungkin dengan post seperti itu mereka berharap bakal mendapatkan penjualan secara cepat.

Tapi bagaimana jika dilihat dari kacamata masyarakat?

Jujur…

Bagi saya sendiri, postingan seperti itu kurang menarik dan malah bikin gak nyaman.

Gimana menurut Anda?

Hard selling bahkan bisa dilihat hanya dari fotonya saja.

Ada lagi contoh hard selling yang paling sering kita temui di kehidupan sehari-hari.


Sumber foto

Dari kebiasaan hard selling inilah menyebabkan profesi sales dianggap ‘rendah’.

Kenapa?

Karena faktanya, dulu banyak banget sales yang cuma berorientasi pada penjualan.

“Lu bakal gua layanin dengan sepenuh hati… Tapi dengan syarat; lu harus beli produk gua.”

“Yang penting gua udah dapet closingan. Masalah konsumen suka atau gak suka sama produknya mah urusan belakangan.”

“Gua gak akan berhenti ganggu lu sebelum lu beli produk ini.”

Ya… begitulah kalimat yang bisa menggambarkan stereotype seorang ‘sales’ di mata kebanyakan orang awam.

Buat Anda yang saat ini berprofesi sebagai sales force…

…apa iya Anda senang beli produk dari penjual yang seperti itu?

Apa itu hard selling?

Dengan cara hard selling, saya yakin siapapun akan mendapatkan penjualan… cepat atau lambat.

Saya pun sering melakukannya.

Hanya saja… mendapatkan 1-2 kali penjualan itu gak cukup.

Apalagi kalau produk yang Anda jual itu termasuk produk yang murah dan mudah untuk dijual.

Kalau dilihat dari contoh-contoh di atas…

Hard selling itu bisa dikatakan sebagai kegiatan menjual produk, tapi dengan cara memperlihatkan kalau kita memang sedang berjualan.

Menurut Investopedia, hard selling itu mengiklankan dan menjual sesuatu dengan cara yang agresif dan kata-kata yang sedikit memaksa.

Pokoknya, calon konsumen harus membeli secepat mungkin saat itu juga.

Hmm…

Sebetulnya gak ada yang salah dengan cara hard selling.

Hanya saja, para konsumen sudah muak dan gak nyaman dengan cara jualan seperti ini.

Bahkan saking ngebetnya pengen dapet penjualan dengan cepat… mereka bukan cuma sekedar melakukan hard selling, tapi juga masuk ke ranah spamming.

“Terus, kenapa hard selling masih sering digunakan, bro?”

Karena hard selling itu cara berjualan yang paling gampang dilakukan!

Jauh lebih gampang daripada kita melakukan soft selling.

Tinggal jepret foto produk sembarangan, terus upload di media sosial…

Tulis caption yang isinya kode produk+harga…

Klik post, selesai.

Pokoknya, tradisional banget deh cara ini.

Di media online, mungkin butuh sekitar lebih dari 2 minggu sampai 1 bulan untuk Anda mendapatkan penjualan pertama.

Ya… tergantung produk yang Anda jual, harga yang ditawarkan dan tingkat persaingannya.

Bisa jauh lebih cepat, kalau Anda menawarkan diskon besar atau bonus yang menarik.

Setelah ‘pecah telor’, untuk mendapatkan penjualan berikutnya juga harus menunggu lama lagi.

Penjualan 2x lebih banyak?

Di sisi lain…

Ada cara yang lebih ampuh untuk meningkatkan penjualan bisnis Anda, khususnya di media online.

Gak cuma itu, cara ini juga mampu membuat bisnis Anda bertahan dari persaingan yang ketat.

Salah satu caranya dengan melakukan soft selling, alias melakukan penjualan tanpa berjualan.

Kalau hard selling itu kesannya penjual menekan calon konsumen untuk segera melakukan pembelian…

…berbeda dengan soft selling yang membiarkan calon konsumen untuk mempertimbangkan terlebih dulu tanpa ada tekanan dari penjual.

Kalau hard selling itu kesannya tergesa-gesa dan provokatif…

Berbeda dengan soft selling yang lebih santai dan menyentuh.

Dari sinilah banyak keuntungan yang bisa kita dapatkan dari cara soft selling.

melakukan penjualan tanpa berjualan

Simpelnya…

Para konsumen akan menyukai brand bisnis Anda karena mereka tau siapa brand Anda yang sesungguhnya.

Bukan semata-mata karena harga yang murah atau diskon yang besar.

Dengan kata lain, Anda akan mendapatkan pembeli yang cocok dengan bisnis online Anda.

Dari sinilah Anda bisa memanen repeat order dengan lebih mudah…

…termasuk menjual produk dengan harga yang lebih mahal dan tetap membuat calon konsumen tetap membeli dari Anda.

 

Jadi… gimana sih caranya melakukan penjualan tanpa berjualan?

#1. Pastikan kalau brand Anda sudah punya pondasi yang kuat

Seperti pada tulisan-tulisan saya yang lain…

… sebelum mulai, pasti saya tekankan agar Anda memperkuat pondasi bisnis Anda terlebih dulu.

Khususnya dalam teknik soft selling ini, brand punya peran penting untuk menentukan tingkat keberhasilannya.

Mulai dari menentukan target market

Menemukan diferensiasi bisnis

Sampai teknik copywriting yang tepat untuk bisnis Anda.

Penting!

Jangan lanjutkan tulisan ini sebelum Anda benar-benar mempraktekkan apa yang saya tulis dalam artikel tersebut.

Kenapa ini begitu penting?

Karena untuk meningkatkan penjualan dan bertahan di antara kerasnya persaingan itu sulit. Sulit banget!

Selain itu, 3 artikel tersebut bisa membantu Anda untuk lebih memahami soft selling secara nyata.

Jadi…

Saya tunggu Anda di sini selagi Anda menguasai ketiga materi tersebut.

 

#2. Jangan buru-buru menyinggung produk yang Anda jual

Sabar, sabar…

Kalau Anda sudah menguasai pondasinya, jangan tergesa-gesa untuk langsung promosi membabi-buta.

Gak ada seorang pun yang menyukai atau tertarik dengan produk yang kita jual.

Orang-orang cuma tertarik dan peduli dengan diri mereka sendiri.

Ya, kecuali produk Anda itu misalnya obat manjur 100% untuk menyembuhkan penyakit secara cepat.

Mungkin banyak orang yang akan membeli, tanpa perlu ribet-ribet menggunakan teknik soft selling ini.

Tapi kalau saya perhatikan, saat ini malah banyak produk kesehatan (yang mungkin manjur)…

…tapi tetap menggunakan berbagai macam teknik branding dan penjualan untuk bisa mencapai target.

Jadi, tahan dulu niat Anda untuk mempromosikan barang dagangan tanpa menyelesaikan tulisan ini.

“Emang kalo langsung promosi pake hard selling itu buruk ya, bro?”

Buruk hanya jika Anda tidak membagi porsinya dengan tepat.

Kita perkecil porsi hard selling…

…sebaliknya, apa yang harus dilakukan?

Pastikan dulu kalau Anda memahami betul product knowledge dari barang yang akan Anda pasarkan.

Kedengerannya sepele ya, tapi kenapa ini penting?

Tujuan dari tulisan ini dibuat adalah untuk membuat bisnis Anda memiliki pembeli yang akurat, ya kan?

Untuk itu, Anda harus bisa mengedukasi target market terlebih dulu tentang seluk beluk produk yang Anda jual.

Biar lebih mantap berjualan, Anda juga harus memahami dunia luar seputar produk yang Anda jual.

Mulai dari apa yang ditawarkan oleh kompetitor…

Kenapa produk Anda yang harus dibeli…

Kenapa Anda memberikan harga sekian dan sebagainya.

Jadi ya balik lagi…

Di sini kita membiarkan calon konsumen untuk melakukan pertimbangan, sehingga mereka melakukan pembelian dengan kesadaran 100% tanpa ada tekanan dari kita sebagai penjual.

 

#3. Kasih valuenya dulu, bro!

Bahasa kasarnya gini…

Kalau Anda mau ‘mengambil’ duit orang lain, Anda harus bisa memberikan dulu apa yang mereka suka.

Bantu selesaikan permasalahan atau keresahan mereka.

Setelah kita mendapatkan hatinya, barulah ambil duitnya tawarkan produknya.

Kadang-kadang kalau cuma baca itu mudah, apalagi soal konsep…

…yang susah? Ya gimana caranya kita bisa praktek langsung.

Untuk itu, mari kita praktekkan secara langsung.

Kuasai konten marketing

Berbicara soal value, saya langsung kepikiran dengan konten marketing.

Selain konten marketing itu lebih gampang untuk dibuat, jurus ini juga lebih mudah untuk diterima oleh masyarakat.

Buktinya, konten mampu meningkatkan relasi antara perusahaan dengan masyarakat sampai dengan 78%.

Dan menurut laporan dari Social Media Examiner, lebih dari 50% marketer menyatakan kalau konten itu jadi aset

digital paling penting. Dahsyat!

Tapi masalahnya…

Meski konten marketing itu sangat efektif buat perkembangan bisnis, nyatanya kita masih suka bingung mau bikin konten apalagi.

Untuk itu, silahkan Anda luangkan waktu sekitar 30 menit untuk mengumpulkan ide-ide konten yang cocok dengan target market Anda.

Mulailah dari keresahan atau kegelisahan mereka sehari-hari.

Posisikan diri Anda sebagai target market.

Sebagai contoh, akun PYOPP ini memberikan penjelasan seputar pemakaian sepatu untuk anak kecil.


Sumber foto: Instagram

Atau jika Anda masih bingung juga, saya punya 1 artikel yang memuat lebih dari 77 ide dan tips konten marketing.

Di situ saya membahas konten marketing secara lengkap mulai dari ilmu dasar sampai berbagai tekniknya.

Mulailah membuat website

Kalau Anda selama ini hanya menaruh konten marketing di media sosial seperti Instagram atau Facebook…

Maka sekarang saatnya ekspansi dengan menggunakan website.

Contohnya artikel-artikel unik dari Dollar Shave Club ini.


Sumber foto: Dollar Shave Club

Selain karena jenis konten ini lebih mudah untuk dibagikan, artikel-artikel dalam website juga akan jauh lebih banyak mengundang traffic menggunakan teknik SEO.

Yes, jauh lebih banyak!

Karena faktanya

5 hasil pencarian teratas Google akan diklik setidaknya oleh 75% pengguna internet.

Dan taukah Anda?

Bahwa sebanyak 70-80% dari pengguna internet mengabaikan iklan berbayar di pencarian Google dan lebih memilih hasil yang organik.

Dan untuk mendapatkan hasil organik, Anda membutuhkan SEO.

Kebetulan saya belum ada niat sama sekali untuk membahas SEO, jadi saya serahkan kepada ahlinya saja.

Berikut saya referensikan SEOblog.id yang menyediakan panduan lengkap seputar SEO.

Pakai metode gratisan

Gak ada orang yang gak suka sama kata ajaib satu ini… gratis.

Sudah banyak perusahaan dan brand-brand ternama yang menggunakan metode 1 ini.

Mulai dari ngadain webinar gratis…

Tester makanan gratis…

Free trial mulai dari tempat fitness…

Software email marketing…

Sampai produk poles mobil yang suka ditawarkan di pom bensin.

Wah, pokoknya masih banyak contoh lainnya yang bisa Anda temukan.


Sumber: Celebrity Fitness

“Kenapa cara ini ampuh? Padahal kalo gua kasih gratis, ntar gua yang rugi dong?”

Bukan masalah rugi atau untungnya.

Tapi tujuan utama kita adalah untuk mendapatkan kepercayaan konsumen terlebih dulu.

Anggep aja sebagai biaya marketing.

Setidaknya ada 2 alasan kuat kenapa Anda harus mencoba metode gratisan ini:

  • Anda meyakinkan calon konsumen yang belum siap mengeluarkan uang untuk membeli produk Anda.
  • Nantinya, mereka akan semakin tau segala keuntungan yang didapatkan jika berbisnis dengan Anda. Kalau mereka sudah merasakannya secara langsung, biasanya mereka akan ketagihan dan susah lepas dari produk tersebut.

“Tapi produk gua bener-bener gak bisa dikasih free bro. Ada alternatifnya?”

Salah satu tujuan dari metode gratisan ini agar calon konsumen bisa merasakan keuntungan produknya secara langsung.

Makanya di dunia properti, banyak pengembang yang menggunakan berbagai cara agar calon konsumen bisa merasakan rumah atau apartemen yang ditawarkan secara langsung.

Tips lainnya jika memang masih tidak memungkinkan…

Buatlah agar produk yang Anda jual itu terkesan jauh lebih murah.

Misalnya Anda jualan sepatu dengan harga Rp 300ribu.

Anda mungkin rugi kalau bagi-bagi produk tersebut secara gratis.

Ya iya, saya aja kalau dikasih sepatu gratisan sudah gak perlu beli sepatu lagi untuk beberapa bulan ke depan. Bisa jadi hitungan tahun.

Nah sebagai alternatif, Anda bisa membuat dari harga Rp 300ribu itu calon konsumen tidak hanya mendapatkan sepatu, tapi juga dapat kaos dan totebag tanpa biaya tambahan.

Jauh lebih murah kan bagi si calon konsumen?

Setidaknya ada sedikit saja margin dari harga jual tersebut… tanpa disadari Anda sudah mendapatkan untung yang lebih besar.

Membuat strategi gratisan yang tepat memang gak mudah.

Apalagi kalau soal hitung-hitungan (khususnya bagi saya).

Setidaknya ada 2 kunci penting yang perlu diperhatikan:

  • Berapa total biaya yang Anda keluarkan untuk menerapkan metode gratisan.
  • Bagaimana metode gratisan ini bisa berdampak bagi perkembangan bisnis Anda.

Berikan apa yang bisa Anda berikan

Biasakan untuk memberi dulu baru menerima.

Jangan kehabisan ide bagaimana caranya bisa memberi.

Bukan semata-mata soal untung atau rugi.

Apalagi yang namanya berbisnis.

Berbisnis itu akan jauh lebih seru jika niat kita ingin membantu orang lain.

Jujur, saya selalu salut dengan salah satu pebisnis muda sukses, yang mungkin Anda sudah pernah mendengar namanya.

Siapa lagi kalau bukan Rico Huang.

Brother yang satu ini gak cuma hobi berbagi ilmu dan materi dahsyat seputar sukses berbisnis…

Malah ketika tulisan ini saya buat, Rico Huang lagi bagi-bagi hadiah emas dan laptop buat para mitra bisnisnya.


Sumber foto

Cara ini juga bisa Anda terapkan sendiri.

Mulailah membuat group atau fanspage di Facebook, lalu bagikan berbagai ilmu yang bermanfaat yang sesuai dengan target market Anda.

Sampaikan value bisnis Anda yang sesungguhnya

Kalau membuat konten marketing itu lebih mudah bagi saya…

Maka, inilah bagian sulitnya.

Bagaimana caranya Anda bisa mengutarakan konsep brand bisnis Anda kepada semua orang.

Mulai dari karakteristik brand sampai diferensiasinya.

Dengan kata lain, bagaimana caranya Anda menyamakan visi dari brand bisnis Anda dengan pasar yang dituju.

 

#4. Distribusi konten dan value

Percuma.

Konten-konten marketing yang sudah Anda buat sedemikian rupa akan menjadi percuma dan sia-sia kalau tidak didistribusikan dengan tepat.

The real value of content marketing is in the distribution channels.

Jason DeMers, Audiencebloom.com

Gimana caranya konten Anda bisa dinikmati oleh target pasar kalau mereka aja gak tau kalau konten Anda itu ada.

Anda sendiri yang perlu mengenalkan konten tersebut kepada target pasar yang dituju.

“Gimana cara melakukannya?”

Saya menemukan data laporan dari Mailmunch yang telah melakukan survey kepada 297 marketer.


Sumber: Mailmunch

Dari grafik ini, kita bisa lihat bahwa distribusi konten lewat influencer marketing-lah yang paling banyak digunakan.

Saya pribadi juga sependapat dengan para marketer tersebut, khususnya untuk di tahun 2017 ini.

Alasan utama jelas karena efisiensi…

Para influencer, atau bahasa gampangnya ‘endorser’ sudah punya target audiensnya sendiri dan ditampung dalam 1 wadah.

Anda tinggal membidik pemimpinnya, maka pengikutnya otomatis akan mengikuti.

Lalu muncullah alasan lainnya, karena efektif.


Sumber: Influencermarketinghub.com

Tugas Anda sekarang adalah membuat list influencer potensial yang cocok dengan target market Anda di Instagram.

Kenapa Instagram?

Karena sosial media satu ini banyak melahirkan influencer; mulai dari anak bayi, hewan peliharaan, sampai artis papan atas.

Buat minimal 10 list influencer potensial, kontak satu per satu, lalu tanya bagaimana prosedur untuk menjalin kerja sama.

Mainkan porsi antara soft selling dengan hard selling

Anda bebas mau menggunakan porsi yang mana.

Yang gampang aja ya, kita pakai prinsip Pareto 80:20.

Kalau Anda belum paham apa itu prinsip Pareto…

Kenapa perbandingannya harus 80:20?

Sebelum Anda melanjutkan, saya merekomendasikan penjelasan dari blog Maxmanroe.com agar Anda paham kenapa ini penting.

Intinya, Anda harus memberikan porsi terbesar untuk soft selling, idealnya sebanyak 80% dari total promosi yang Anda lakukan.

Jangan dibalik kalau Anda tidak mau bernasib sama seperti ‘para sales’ yang dicap buruk oleh konsumen.

Kasih dulu apa yang disukai oleh target market Anda, apa yang menjadi manfaat bagi mereka…

…barulah 1-2 kali boleh mempromosikan produk jualan Anda.

Sesederhana itu, tapi sulit untuk dilakukan, khususnya dalam konteks marketing ini.

Oh ya satu lagi, prinsip 80:20 ini juga bisa diterapkan untuk distribusi (80) dan membuat konten marketing (20).

Percepat dengan Facebook Ads

Manfaatkanlah waktu sebaik mungkin, begitu kata orang bijak.

Hal ini tentunya berlaku juga bagi pemasaran bisnis Anda.

Agar waktu Anda gak habis terbuang untuk distribusi konten, coba gunakan jasa periklanan dari Facebook.

Selain lebih cepat, Facebook Ads juga bisa membantu menyebarkan konten Anda kepada orang yang tepat dengan harga yang sangat terjangkau.

#5. Jalin hubungan dengan target market

Jangan tanggung-tanggung kalau mau mendekatkan brand Anda kepada target market.

Kalau mau nyemplung ya tenggelam sekalian.

Selain membuat pasar sendiri dengan group Facebook, Anda juga bisa masuk ke pasar yang sudah ada.

Yakni komunitas online dengan bidang tertentu.

Kalau saya sedang ingin berbaur dengan komunitas online tertentu, langkah pertama yang saya lakukan adalah mencari lewat forum terlebih dulu.

Biasanya komunitas yang tergabung dalam forum itu lebih berkualitas orang-orangnya, karena mereka pasti punya aturannya sendiri. Bukan yang sembarangan.

Cara ini bukan cuma bermanfaat untuk peningkatan brand awareness atau mendapatkan trust dari calon konsumen…

…tapi juga mendapatkan insight konsumen yang terkadang sulit kita dapatkan sebagai penjual.

Berdasarkan penelitian dari Forrester, sekitar 50% perusahaan kesulitan untuk memahami konsumen mereka sendiri.

Di sini Anda akan menemukan segala macam pertanyaan soal keresahan, kegelisahan atau masalah-masalah mereka dengan mudah di sini.

Mulailah bantu permasalahan mereka satu per satu.

Hindari memberikan solusi yang isinya penawaran produk Anda secara frontal.

Untuk melakukan promosi, Anda cukup memasang foto profile dari logo brand Anda dalam komunitas online tersebut.

Tenang aja…

Asal kita sudah membantu, penjualan pun pasti segera menyusul.

Gunakan email marketing

Email marketing dipercaya sebagai alat marketing dengan penghasil ROI terbesar.

Berdasarkan penelitian, untuk mendapatkan profit sebesar $ 44, Anda hanya perlu mengeluarkan biaya sekitar $1 saja dalam email marketing.

Dalam konteks ini, penggunaan email marketing bisa Anda gunakan untuk menjalin hubungan dengan target market jauh lebih dalam lagi.

Atau yang biasa disebut dengan personalisasi.

Bukan cuma untuk meyakinkan calon konsumen untuk segera melakukan pembelian…

…tapi juga untuk meningkatkan repeat order dari pembeli yang sudah ada.

Tapi sesuai dengan prinsip Pareto…

Tentunya Anda harus lebih sering mengirim email yang bermanfaat bagi target market, ketimbang email yang berisi penjualan aja.

Berikan reward bagi pelanggan setia

Cara ini bisa mempernudah Anda dalam mendekatkan diri kepada target market dan tentunya…

…meningkatkan repeat order.

Bangkitkan mereka yang sudah puas berbelanja di toko Anda dengan berbagai penawaran menarik.

 

#6. Minta ulasan dan referensi dari pembeli

Faktanya, jurus ‘word of mouth’ berpengaruh sebesar 74% dalam meningkatkan pembelian konsumen.

Sedangkan, di penelitian lain menyatakan kalau sebanyak 72% konsumen mempercayai suatu bisnis dari ulasan positifnya.

Dengan kata lain, jangan melulu Anda yang sibuk meyakinkan calon konsumen untuk melakukan pembelian.

Buatlah konsumen yang sudah ada untuk menarik calon konsumen lainnya.

Inilah salah satu esensi dari seni melakukan penjualan tanpa berjualan.

Jadi, tugas Anda tidak berhenti hanya sampai barang diterima oleh si pembeli.

Agak sulit memang untuk membuat konsumen mau repot-repot memberikan referensi, khususnya di dunia online.

Terlebih lagi kalau produk yang kita jual itu biasa-biasa aja.

Ada beberapa tips singkat yang bisa saya bagikan dalam hal ini.

  • Permudah mereka untuk memberikan ulasan.
  • Berikan hadiah buat konsumen yang memberikan ulasan.
  • Tanyakan di waktu yang tepat.
  • Gunakan marketplace seperti Tokopedia dan Bukalapak.

Hindari menekan bahkan memaksa konsumen untuk memberikan ulasan positif.

Anggep aja review mereka adalah bonus buat kita.

Kalau konsumen memang merasa puas berbisnis dengan kita, seharusnya ulasan positif dan referensi bisa datang dengan sendirinya.

Akhir kata…

Saya yakin untuk bisa menguasai seni melakukan penjualan tanpa berjualan ini dibutuhkan proses yang gak singkat.

Sedangkan, hanya membaca tulisan ini aja gak akan membuat bisnis Anda bisa bertumbuh.

Untuk itu, terapkanlah strategi ini se-segera mungkin demi pertumbuhan bisnis Anda sendiri.

Jangan lupa klik share bila tulisan ini bermanfaat.

Saya tunggu tanggapan Anda di kolom komentar.

 

Designed by Freepik
Designed by Dooder / Freepik

No Comments

Post A Comment