Dari Kacamata Marketing, Kenapa Berita ‘Ricuh’ Lebih Mudah Tersebar?

Flashback ke beberapa waktu yang lalu…

Sebelum terjadinya unjuk rasa besar-besaran pada tanggal 4 November 2016.

Saya menerima dan melihat cukup banyak himbauan, berita, video, foto, atau apapun bentuknya yang berisi ‘pesan ricuh’ tentang apa yang bakal terjadi, atau apa yang harus dilakukan saat hari unjuk rasa tiba.

Dan saya juga yakin kalau Anda juga mengalami hal yang sama.

Entah itu pesan yang mungkin isinya provokasi menyebarkan ketakutan, atau apapun yang bisa memengaruhi emosi pembacanya.

Tapi dalam artikel ini saya gak mau membahas demo atau dunia perpolitikan.

 

Yang jadi fokus saya adalah, jika dilihat dari segi marketing, kenapa berita kaya gini lebih mudah tersebar?

Kenapa bahkan kita sendiripun mungkin ikut menyebarkan?

Hal ini juga berlaku di luar konteks demo kemarin.

Secara garis besar, semua pesan-pesan ricuh ini punya satu kesamaan, yakni melibatkan emosi pembacanya.

Emosi tersebut antara lain rasa takut atau marah.

 

Marah

Seperti yang saya tulis pada artikel sebelumnya mengenai emotional marketing.

Konten yang mampu menarik emosi marah itu sangat potensial menjadi juara viral.

Kenapa bisa gitu?

Konten yang mampu melibatkan emosi audiens secara kuat (high-energy), jauh lebih berpotensi untuk disebar dan dibagikan.

Itulah kenapa konten-konten semacam provokasi yang menguras amarah audiens mampu menyebar dengan sangat cepat.

Tapi secara pribadi, saya gak merekomendasikan menggunakan cara ini untuk pemasaran dalam berbisnis.

 

Takut

Konten-konten yang melibatkan rasa takut sering dijumpai dalam produk rokok, iklan narkoba, atau ‘kampanye-kampanye’ politik seperti yang sering muncul  akhir-akhir ini.

Audiens bakal ‘menerima’ konten yang berbau rasa takut ini jika memenuhi beberapa syarat, seperti:

  • Konten harus bisa memberikan rasa takut yang sesungguhnya.
  • Sehingga akhirnya para audiens harus menghindari ketakutan tersebut agar tidak terjadi.
  • Lebih efektif jika penyampaian konten dilakukan satu kali, atau audiens menerima hanya sebanyak satu kali.

Itulah kenapa meskipun di bungkus rokok sudah ditaruh gambar-gambar yang menyeramkan, tapi masih banyak perokok yang gak terpengaruh.

Berbeda seperti misalnya berita-berita ricuh yang terjadi kemarin yang memang kondisi ini sangat jarang terjadi.

Atau dalam brand, iklan Volkswagen “eyes on the road” salah satu contohnya.

Video iklan ini ditampilkan sekali (gak berulang-ulang) kepada orang-orang yang lagi nonton bioskop di China.

 

Juga berlaku dalam kampanye “most shocking day” dari Save the Children.

Konten ini mampu menggabungkan rasa marah dan takut sekaligus.

Balik lagi ke topik awal sesuai judul…

Sekarang Anda sudah tau kenapa berita-berita ricuh seperti kemarin itu mudah banget tersebar, bahkan efektif memengaruhi audiensnya.

Yang jadi persoalan adalah bagaimana Anda menyikapi hal seperti ini.

Menurut saya, gambar berikut mampu menyampaikan apa yang mau saya simpulkan dari keseluruhan artikel ini.

one-click-killer


isi-survey-banner

Designed by Freepik

Tags:
3 Comments
  • Timoty
    Posted at 15:21h, 11 November Reply

    Mantap, trims artikelnya. Pembahasannya sederhana namun cukup bermanfaat.

  • NidufiraZ
    Posted at 05:05h, 12 December Reply

    Gak bisa konfirmasi email waktu klik tombol konfirmasi bro

    • Rheza
      Posted at 12:32h, 14 December Reply

      Halo bro, respon waktu klik konfirmasi apa ya kalo boleh tau?

Post A Comment