Kapan Sebaiknya Bisnis Kita Harus Berhenti?

Sekedar sharing sedikit dari pengalaman saya beberapa tahun yang lalu.

Waktu itu pertama kalinya saya terjun langsung ke jalanan buat menjajakkan dagangan tas saya di pinggir jalan.

Ya, pertama kalinya, karena dari waktu-waktu sebelumnya, saya cuma mengandalkan sistem online aja.

Setiap siang saya, ditemani oleh seorang teman, mulai memarkirkan mobil dipinggir jalan untuk cari spot yang bagus.

Harus cari spot yang ada pohon atau tiang untuk mengikatkan tali panjang.

Nah, tali panjang itu gunanya buat menggantukan tas-tas cantik tersebut. Relatif minim modal.

Karena peralatan dagang yang seadanya, dengan terpaksa ketika hari mulai gelap, saya dan temen saya ini mulai menutup dagangan kita, karena gak ada penerangan sama sekali.

Kecuali lampu jalan dan lampu dari kendaraan yang lewat.

 

Kebanyakan santai

Selama waktu berjualan ini, kerjaan saya dan temen saya ini lebih banyak santai dan ngobrolnya.

Kenapa gitu?

Karena kenyataannya susah sekali mencari pelanggan yang tertarik dengan tas-tas kami.

Lebih parahnya lagi, gak sedikit calon pelanggan yang tertarik itu adalah ’emak-emak wajib nawar sampe penjualnya bangkrut’. Haha.

Bahkan pernah dalam sehari, tas yang kami jajakan gak ada yang beli sama sekali.

Setelah flashback ke beberapa minggu sebelumnya, ternyata hasilnya cukup mengecewakan.

Jangankan banjir untung, dapet untung dari jual 1 pcs tas aja sudah bagus.

Karena terlalu putus asa, saya pernah jual beberapa tas dengan harga modal, tanpa untung sama sekali.

“Yang penting ada yang beli dulu deh.”

Setelah 2-3 bulan hal kaya gini masih terus berlanjut.

Sampai akhirnya pada bulan ke 4, saya putuskan untuk menghentikan bisnis ini.

 

Kesalahannya apa?

Dan beberapa tahun setelah saya menyadari, ternyata banyak kesalahan yang saya buat dari bisnis tas cewek ini.

Gak adanya diferensiasi, gak ada daya tarik pelanggan, gak ada target, promosi yang sangat kurang, dan 1 hal yang paling fatal…

BERHENTI TERLALU CEPAT.

 

 

“Emang salah kalau saya berhenti di waktu itu?”

Bisa dibilang… ya.

Salah karena dalam waktu 4 bulan itu, bisnis tersebut masih terjadi progress (perkembangan), meski sangat lambat.

Inilah yang biasanya kebanyakan orang (termasuk saya waktu itu), buru-buru menganggap bahwa bisnis kita adalah bisnis yang gagal.

Padahal, biarpun dalam sehari saya gak mendapatkan untung yang seberapa, tapi di sisi lain saya juga gak mengeluarkan biaya pengeluaran yang besar.

Malah hampir gak ada biaya pengeluaran sama sekali.

Gak ada biaya pengeluaran untuk sewa tempat, listrik, karyawan, apalagi biaya produksi.

Berbeda kalau selama 6 bulan itu ternyata income yang saya dapat lebih kecil daripada biaya pengeluarannya.

 

Inilah indikator bisnis menuju kegagalan.

Jadi buat Anda yang saat ini mengalami sepi order…

Jangan buru-buru menganggap bisnis Anda yang sekarang ini adalah bisnis yang gagal dan mau secepatnya ganti haluan bisnis.

Liat beberapa bulan ke depan, apakah biaya pengeluaran masih lebih besar daripada income yang lu dapat?

Dan meski Anda sudah melakukan berbagai strategi, tapi tetap jumlah pengeluaran > pendapatan?

Kalau begitu kenyataannya, saya rasa sudah saatnya untuk Anda coba mencari peluang bisnis baru yang lebih meyakinkan.

 

3 Comments
  • rahayu
    Posted at 21:54h, 15 January Reply

    halo ka salam kenal.
    aku mau tanya, saat ini bisnis onlineku lagi sepi pembeli, rasanya aku mau udahan aja. meski aku gak keluarin modal, tapi drpd gitu2x aja sepi pembeli mendingan aku tutup,, ya ka???

    • Rheza
      Posted at 23:16h, 15 January Reply

      Lanjutin aja, Rahayu. Lagipula gak keluar biaya bulanan kan untuk menjalankan bisnis ini? Mungkin bisnisnya cuma perlu lebih ‘diseriusin’ lagi.

  • ethan
    Posted at 22:08h, 15 January Reply

    gua juga pernah bro tapi online, awalnya gua semangat karena baru memulai, pas udh enggak ada yang respon niat gua mulai turun sampe akhirnya gua ya sama kaya lu bro mutusin buat berenti karena enggak ada progress. ckck

Post A Comment