Jangan Jadi ‘Manusia Otomatis’. 1 Konsep Sederhana Menuju Indonesia Lebih Baik

Saya cukup yakin masih sangat sering dari kita (saya juga loh) gak sadar dengan hal yang akan saya bahas dalam tulisan singkat ini.

Padahal, apa yang akan saya bahas di sini adalah salah satu hal yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.

Ya, tuntutan seorang entrepreneur untuk bisa meraih kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidup.

 

Kalau Anda menyadari…

Akhir-akhir ini di media sosial lagi kebanjiran dengan hal yang berbau hoax dan provokasi.

Entah itu yang berbentuk video, foto, atau berita.

Entah itu yang berbau agama, politik, atau ras.

Di luar itu, yang jadi pertanyaan adalah; kenapa masalah seperti ini, khususnya di media sosial mampu dengan mudahnya memengaruhi (sebagian besar) para penerimanya?

Parahnya lagi, masalah ini hampir gak pandang bulu sama sekali.

Mulai dari yang belum dewasa hingga yang sudah dewasa, dari kaum yang kurang memiliki basis pendidikan, hingga mereka yang punya deretan gelar pendidikan terpandang.

Semuanya pernah menjadi korban berita hoax atau provokasi. Ya, termasuk saya salah satunya.

 

Akibatnya apa?

Seolah-olah kita bergotong royong, saling menguatkan satu sama lain untuk membela hal yang belum tentu kebenarannya.

Bahkan tega menjatuhkan pihak lainnya.

Komentar-komentar pedas mampus dengan mudahnya kita lontarkan kepada orang lain, seolah diri kita lah yang paling benar.

Saya sendiri cukup sedih dan marah melihat apa yang dilakukan beberapa netizen, khususnya, ketika BI meluncurkan beberapa desain mata uang baru.

Mulai dari ‘pahlawan kafir’, sampai pelecehan pada pahlawan di lembar Rp 10,000.


Sumber: Kompas.com

Wah, seolah-olah pahlawan tersebut kalah berjasa dibanding mereka yang mampu berkomentar pedas mampus itu.

 

Inilah yang dinamakan ‘manusia otomatis’.

Di luar konteks tadi, banyak juga loh situasi yang membuat kita menjadi manusia otomatis.

Bahkan sampai saat ini, saya sendiri termasuk manusia otomatis.

Jadi, apa sih ‘manusia otomatis’ yang saya maksud ini?

Konsep ini terinspirasi ketika saya membaca buku “You Are Leader” yang ditulis oleh Arvan Pradiansyah.


Sumber: Goodreads.com

Yang mana, kalau ditelusuri lebih lanjut sebenarnya konsep ini ditemukan oleh Stephen Covey dengan gagasannya yakni stimulus-respons:

Di antara kejadian yang terjadi (stimulus) dan bagaimana cara kita memberikan respons, terdapat kebebasan dalam memilih.

 

Bingung, bro? Begini ilustrasinya.

Manusia otomatis sepertinya tidak memanfaatkan ruang yang diberikan Tuhan, antara stimulus dan respons. Atau mungkin… hanya belum sadar aja?

 

Kehidupan kita sehari-hari.

Dan konsep ini gak hanya berkaitan dengan berita hoax atau provokasi di media sosial aja, tapi juga dalam kehidupan kita sehari-hari.

Apa yang biasanya dilakukan ketika kita terjebak macet? Bete? Maki-maki pengendara lain?

Bunyiin klakson selama mungkin dan berharap macet akan terurai dengan sendirinya?

Gimana kalau tiba-tiba kendaraan Anda gak sengaja diserempet oleh pengendara lain?

Marah gak karuan lalu berharap agar pengendara tersebut menuruti segala kemauan Anda?

Atau mungkin ketika Anda lagi menerima bonus, entah itu komisi atau THR, tanpa berpikir panjang Anda langsung menghabiskan untuk memenuhi keinginan sesaat.

Ketika bisnis Annda sedang berhadapan dengan penawaran kerja sama yang ‘keliatannya’ menguntungkan, karena dikejar nafsu, Anda langsung meng-iya-kan penawaran tersebut.

Oh ya, gimana ketika kaum wanita, khususnya, melihat barang diskon besar-besaran di mall?

Mungkin sebagian besar langsung membeli barang tersebut yang mana gak dibutuhkan sama sekali.

Padahal mungkin masih banyak kebutuhan genting dan penting yang harus dipenuhi.

Semua ini merupakan tanda-tanda bahwa kita adalah (masih) manusia otomatis.

 

Memang apa yang bisa Anda lakukan?

Begini…

Ketika Anda bertemu dengan orang yang sangat menyebalkan, dan Anda menjadi marah karenanya, lalu salah siapa?

Mungkin benar salah yang pertama ada pada orang tersebut.

Tapi bukan berarti Anda yang menjadi marah lepas dari segala kesalahan.

Karena sesuai dengan konsep stimulus-respons ini, Anda memiliki beberapa pilihan ketika bertemu dengan teman tersebut.

“Bagaimana sebaiknya Anda menghadapi orang yang menjengkelkan ini?”

“Apa akibatnya ketika Anda menjadi marah atas perbuatannya?”

“Apakah marah adalah satu-satunya jalan yang terbaik bagi saya dan dia?”

Pertanyaan -pertanyaan seperti ini merupakan bagian dari pemanfaatan ruang antara stimulus dan respons.

Waktunya Anda berpikir dan memilih respons yang tepat.

 

Lalu…

Tantangan terberatnya adalah ketika Anda dihadapkan dengan situasi yang memicu emosi marah, lalu emosi tersebut semakin dibakar oleh banyaknya orang yang sepihak dan mendukung.

Persis ketika beberapa netizen dengan mudahnya melecehkan Frans Kaisiepo, sang pahlawan yang saat ini nampak pada lembar baru Rp 10,000.

Sekarang Anda sudah semakin tau tentang konsep sederhana ini.

Lalu saatnya Anda menguji, sudah sampai manakah kualitas diri kita masing-masing?

 

10 Comments
  • Indie
    Posted at 16:15h, 31 December Reply

    Di buku 7 habits of highly effective people pun Steven Covey bilang kalo kita harus punya sikap Proaktif (malah bahasan ini ada di bab pertama). Artinya stimulus apapun yang datang, kita punya kekuatan sepenuhnya bagaimana untuk merespon hal itu.

  • Dimas Nugaraha
    Posted at 12:39h, 15 January Reply

    Kalo gue sendiri memang masih sering jadi manusia otomatis. Gue sadar akan ini. Tapi ya alhamdulilah sekarang pikiran gue makin tersadar. Harus lebih positive thinking, cari hikmah di setiap permasalahan.

  • airmancur
    Posted at 15:53h, 15 January Reply

    asli, apa yang ente omongin bener semua cuy (y) di fb gua banyak banget bejibun tuh manusia otomatis. berita yg belum tentu kebenerannya ditelan mentah2.

  • Abiyoga Restu Subhakti
    Posted at 21:18h, 15 January Reply

    WOW! ckckck… berani sekali artikel ini hahaha. Cukup singkat tulisannya tapi benar benar menghantam saya. ternyata selama ini saya termasuk manusia otomatis.

    Baru tau blog ini gak cuma mbahas strategi bisnis. beruntung menemukan blog ini. sukses untuk Digitalinbro.com!!

  • yunitacha
    Posted at 13:11h, 20 January Reply

    nyenggol banget nih tulisannya ka, hahahha. aku share ke fb ya, success for you!

    • Rheza
      Posted at 14:37h, 21 January Reply

      Thank you so much Yunitacha!

  • Simon Iryan
    Posted at 19:30h, 20 January Reply

    Cepat2lah bertoba wahai kalian para manusia otomatis.

    • Rheza
      Posted at 14:30h, 21 January Reply

      Sekalian dishare bro ke FB nya biar yang masih otomatis bisa liat 🙂

  • Didot
    Posted at 21:32h, 29 January Reply

    Wah keren gan tulisannya ane suka. Btw berarti selama ini ane termasuk manusia otomatis …

    • Rheza
      Posted at 23:21h, 29 January Reply

      Ayo bro berubah! 🙂

Post A Comment